Hubungan Lama Menderita Gagal Ginjal Kronik Dengan Kadar Albumin Pada Penderita Hemodialisis


Gagal ginjal kronik (GGK) adalah merupakan penurunan fungsi ginjal secara progresif sehingga tidak dapat mempertahankan homeostasis dalam tubuh sehingga penderita harus melakukan haemodialisis buatan. Komplikasi dari GGK adalah turunya kadar albumin.

Kekurangan albumin dapat di tanggulangi dengan pemberian therapy dan nutrisi saat perawatan. Tujuan penelitian ini adalah diketahui hubungan lama menderita gagal ginjal kronik dengan kadar albumin pada Penderita hemodialisis

Penurunan atau kegagalan fungsi ginjal berupa fungsi ekskresi, fungsi pengaturan dan fungsi hormonal dari ginjal. Sebagai kegagalan sistem sekresi menyebabkan menumpuknya zat-zat toksik dalam tubuh yang akan menimbulkan sindrom uremi.

Akang Putra Hubungan Lama Menderita Gagal Ginjal Kronik Dengan Kadar Albumin Pada Penderita Hemodialisis

Hemodialisis adalah proses difusi, yaitu terjadi translokasi ion melalui membran semipermeabel akibat perbedaan konsentrasi dan ultrafiltrasi akibat perbedaaan tekanan. Kedua proses ini membersihkan darah di dalam ginjal buatan (dialyzer). Darah penderita dialirkan dengan bantuan pompa (blood pump) ke dialyzer, darah yang telah dibersihkan dimasukkan kembali kedalam tubuh.

Terapi konservatif pada gagal ginjal yaitu pengaturan diet terutama pada kandungan protein dan air. Untuk dapat mencapai dan mempertahankan kondisi tersebut banyak faktor yang mempengaruhi, antara lain nutrisi Penderita untuk dapat mempertahankan kadar albumin dalam batas normal dalam tubuh Penderita.

Pada Penderita yang menjalani hemodialisis akan terjadi pengeluaran asam amino melalui dialisis dan penurunan sintesis protein. Pada Penderita yang menjalani hemodialisis juga akan kehilangan albumin sekitar 20 gr/dl dalam satu kali dialisis dan itu terjadi bila menggunakan tipe dialyzer high flux.

Untuk itu Penderita hendaknya mampu meningkatkan nutrisi yang akan membantu Penderita dalam menjalani pengobatan yang optimal seperti yang diharapkan, sehingga peningkatan albumin dapat terkontrol secara efektif.

Penderita dengan gagal ginjal kronik akan mengalami hipoalbumin sebagai komplikasi penyakit dan terapi nutrisinya. Albumin dalam peredaran darah merupakan penentu utama tekanan osmotik plasma darah. Akibatnya penurunan albumin dalam sirkulasi menyebabkann pergeseran cairan dalam ruang intra vaskuler

Dalam glomerulus yang normal air difiltrasi sedangkan protein tetap tinggal dalam kapiler glomerulus. Pada glomurulusnefritis terdapat inflamasi kapiler glomerulus, dan kemudian keluar bersama urine. Bila kehilangan protein lebih dari produksinya akan timbul albuminemia

Mekanisme keluarnya urine albumin dari urine adalah peningkatan permeabilitas di tingkat glomerulus yang menyebabkan protein lolos dalam filtrate glomerulus. Konsentrasi protein ini melebihi kemampuan sel-sel tubulus ginjal mereabsorbsi dan memprosesnya.

Secara tradisional kadar proteinuria diperkirakan bermakna untuk menilai keparahan penyakit ginjal. Hal tersebut dapat terjadi pada Penderita gagal ginjal kronik yang telah menjalani hemodialisis < 1 tahun ditemukan lebih rendah daripada Penderita yang telah menjalani hemodialisis > 1 tahun, hal tersebut disebabkan oleh kurangnya pemahaman tentang diit pada Penderita yang telah menjalani hemodialisis dan juga dipengaruhi oleh terapi diuretik  yang masih diberikan. Dimana pada saat urine dikeluarkan protein pun akan dikeluarkan.

Albumin merupakan serum yang sangat penting dalam tubuh dimana merupakan penentu utama tekanan osmotik plasma darah. Akibat yang disebabkan oleh penurunan albumin akan menyebabkan pergeseran cairan dari ruang intravaskuler

Hipoalbumin pada Penderita gagal ginjal kronik yang telah menjalani hemodialisis dapat disebabkan oleh malnutrisi berat yang diakibat karena proses inflamasi pada Penderita gagal ginjal kronik. Adanya inflamasi dikaitkan dengan anoreksia pada Penderita dialisis. Inflamasi kronis juga bisa mengakibatkan kecepatan penurunan protein otot skeletal maupun yang ada di jaringan lain, mengurangi otot dan lemak sehingga mengakibatkan hipoalbumin

Selain adanya inflamasi proses hemodialisis yang membuang protein dan vitamin bersama dengan dialisat dimana selama hemodialisis berjalan akan kehilangan 10 – 12 gr asam amino, glukosa juga akan dikeluarkan melalui dialisat

Proses inflamasi pada Penderita gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis itu terjadi karena hemodialisis yang dijalani < 10 – 15 jam/ minggu dan juga disebabkan oleh penurunan total volume dari dializer, dimana dializer reuse yang boleh digunakan adalah 80% dari nilai total volume. Bila kurang dari 80% maka tidak boleh digunakan lagi. Hal tersebut sesuai dengan konsesus dialisis dimana disebutkan bahwa dializer reuse boleh digunakan kembali bila masih 80% total volume.

Defisiensi Albumin Timbul Bila :
  1. Produksi berkurang; Pada keadaan kurang gizi yang berat, makanan mengandung asam amino yang sangat kurang sehingga hati tidak dapat memproduksi albumin yang cukup. Pada penyakit hati yang berat (sirosis hati) hampir selalu dijumpai hipoalbumin.

  2. Kehilangan albumin; Hilangnya protein yang lebih banyak dari yang dibuat oleh hati yang sehat. Kehilangan protein yang massif ditemukan pada gagal ginjal kronik, penyakit jantung, penyakit dinding lambung. Pada infeksi berat juga dapat terjadi hipoalbuminemia hal ini disebabkan suatu subtansi yang dilepas dengan diseintegrasi dari granulisit yang memberti syarat pada hati untuk membentuk fibrinogen dan pada saat yang sama menghentikan produksi albumin.

Kadar albumin dalam darah sangat dipengaruhi oleh status gizi Penderita gagal ginjal kronik yang telah menjalani hemodialisis. Dimana fungsi albumin adalah sebagai cadangan asam amino yang bersirkulasi. Dalam kapasitas sebagai simpanan asam amino maka albumin merupakan indikator status gizi.

Menurut Lowrie dan USRDS menyebutkan bahwa status gizi dalam hal ini diintervensi oleh BMI (Body Mass Index), apabila Penderita tersebut mengkonsumsi asupan protein yang kuat atau status gizi baik, maka status albumin akan stabil. Lowri menyatakan bahwa status albumin merupakan predictor risiko kematian karena kurang gizi.

Asupan gizi pada Penderita gagal ginjal kronik adalah diet protein rendah, sedangkan Penderita gagal ginjal kronik yang telah melakukan hemodialisis dietnya tinggi protein/normal protein, Makanan yang mengandung tinggi protein antara lain daging segar, ayam, kalkun, ikan dan makanan laun, telur atau putih telur, susu.

Oleh karena itu penatalaksanaan gagal ginjal kronik dengan hemodialisis harus diimbangi dengan aturan diet yang tepat dan kecukupan hemodialisis.

Penurunan kadar albumin pada Penderita yang menjalani hemodialisis dipengaruhi oleh terjadi malnutrisi karena proses inflamasi yang masih terjadi disebabkan karena kurangnya waktu hemodialisis. Proses hemodialisis akan membuang protein dan vitamin dan glukosa bersama dialisat. Selama hemodialisis berlangsung akan kehilangan 10 – 12 gr asam amino.

Penderita yang menderita gagal ginjal kronik yang belum menjalani hemodialisis harus dilakukan pemeriksaan kadar albumin darah, konseling gizi oleh instalasi gizi harus lebih ditingkatkan baik untuk Penderita pre hemodialisis maupun Penderita yang sudah menjalani hemodialisis.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hubungan Lama Menderita Gagal Ginjal Kronik Dengan Kadar Albumin Pada Penderita Hemodialisis"

Post a Comment

Harap Berkomentar Sesuai dengan Topik Pembahasan

Komentar anda sengaja dimoderasi untuk menghindari komentar yang mengandung sara dan spam