CATATAN PENTING HIDROPONIK : MELON LEBIH SUKSES BILA MENGGUNAKAN SISTEM FERTIGASI POLYBAG

YOS SUTIYOSO : CATATAN PENTING HIDROPONIK : Nomer urut 163.
MELON LEBIH SUKSES BILA MENGGUNAKAN SISTEM FERTIGASI POLYBAG


Polybag, kantong plastik hitam, dengan ketebalan 150 hingga 200 mikron, biasanya diberi nomer, dengan perbedaan ukuran 5 cm,  sebagai berikut : 15/20, 20/25, 25/30, 30/35, 35/40, 40/45. Angka sebelah kiri adalah lebar mulut kantong yang ditekuk, dan angka sebelah kanan adalah tinggi kantong.

Bila belanja, maka lebih mudah disebutkan volume isi kantong, misalnya 3, 5, atau 7 liter muatan arang sekam. Tentunya dalam benak sudah dihitung, bahwa bila densitas populasi kantong 20.000 bh/ha, dan preferensi ialah volume 5 liter/kantong, maka akan berarti dibutuhkan 100.000 liter arang sekam/ha. Dalam hal ini saya lebih senang menyebutkan liter daripada kg untuk arang sekam, karena bobot mudah dimanipulasi dengan menyiram air pada arang sekamnya.

Budidaya polybag memang lebih mudah penerapannya, karena jarak tanam mudah diubah sewaktu-waktu, dengan menggeser tata-letaknya. Harus diingat, bahwa menggeser polybag yang sudah berisi arang sekam, diairi, dan bertambah beratnya, sering merusak bibir polybag, sehingga arang sekamnya berceceran. Memang sering bibir polybag ditekuk dobel untuk memperkuat terhadap perlakuan kasar, tetapi di lain fihak, hal itu mengurangi ketinggian polybag, dan isi volume-nya.

Dianjurkan supaya arang sekam dipadatkan sedikit, supaya me-lateral-kan aliran larutan nutrisi, sehingga distribusi larutan pupuk akan lebih merata. Dengan menumbuk kantong plastik pada lantai yang solid, bisa dicapai pemadatan yang cukup padat, sehingga ulangan irigasi dapat dikurangi.

Yang mudah dilaksanakan ialah menanam dengan media tanam arang sekam, yang memiliki “water retaining capacity”, daya memegang air yang cukup baik, tetapi yang kandungan nutrisi hanya sedikit, hanya uraian arang kulit padi, yang kandungannya kebanyakan justru silikat, penguat jaringan.

Di samping arang sekam, bisa pula menggunakan “cocopeat”/bubuk-sabut-kelapa. Yang masih segar, berwarna cokelat, mengandung saponin, yang bila diukur kandungannya, mencapai EC 2,0 mS.

Memang saponin itu tidak mempengaruhi pertumbuhan tanaman, tetapi bila kita ingin menanam melon, dan akan menggunakan EC 2,5, sedangkan cocopeat-nya sudah menunjukkan angka EC 2,0, maka “jendela” pemakaian hanya 2,5 – 2,0 = 0,5 mS, terlalu kecil untuk berproduksi dengan baik.
Sebaiknya berkarung-karung cocopeat yang kandungan saponin-nya tinggi, dicuci dulu di kolam dengan air deras mengalir, selama sekitar dua minggu. Bila diukur dengan EC meter, sudah menunjukkan angka EC < 0,5 mS, maka bisalah kita mulai menggunakannya sebagai media tanam.

Sebaiknya cocopeat yang sekarang lapar, sesudah selama dua minggu dikuras saponinnya, diberi dulu larutan pupuk A-B mix dengan EC 2,5 mS, untuk mengisi kekosongan nutrisi itu. Sebagian besar masuk ke dalam partikel cocopeat, dan sisanya yang tinggal sedikit, akan berada di permukaan partikel. Hanya inilah yang bisa diserap oleh akar melon yang baru saja selesai dipindah-tanamkan.

Sebaiknya penjenuhan cocopeat yang dicuci dilakukan lebih lama lagi, ditunggu hingga bagian dalam partikel cocopeat jenuh dengan nutrisi, yang berada di permukaan partikel sudah lebih banyak, dan dapat diserap dengan mudah oleh akar. EC 2,5 - 0,5 = 2,0 dianggap cukup untuk produksi melon. Untuk mendapatkan hasil yang lebih tinggi, silakan curah/flowrate-nya ditingkatkan.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "CATATAN PENTING HIDROPONIK : MELON LEBIH SUKSES BILA MENGGUNAKAN SISTEM FERTIGASI POLYBAG"

Post a Comment

Harap Berkomentar Sesuai dengan Topik Pembahasan

Komentar anda sengaja dimoderasi untuk menghindari komentar yang mengandung sara dan spam