Indeks dalam jurnal disadur dari keterangan Pak Lukman di Workshop RJI JABAR

 Indexing itu hakikatnya penyebar luasan atau diseminasi. Jadi agar artikel jurnal kita kesebar luas kita bisa lakukan indexing. Perumpanaan nya sama seperti kita membuat produk dagangan. Agar produk kita bisa dikenal dan dibeli konsumen kita bisa lakukan nitip di warung atau toko lain.

Indexing juga sama agar artikelnya diketahui orang dan dibeli (dibaca dan dikutip) kita juga nitip ke lembaga lembaga pengindeks. Lembaga pengindex ada macem macem seperti halnya toko tadi.

  1. Lembaga pengindex tingkat rendah sama halnya dengan warung warung sekitar kita. Untuk nitip produk kita, kita hanya bilang yang punya warung untuk  nitip maka  langsung setuju. Warung jenis ini kalo di jurnal seperti google scholar, portal garuda, moraref dsj.
  2. Pengindex sedang, jadi kalo warung ini kita mau nitip produk ada syarat tertentu misalnya ngisi form yang agak panjang, kemudian identitas pabrik produksinya harus jelas, mekanisme produksinya harus ada sopnya dll. Toko ini hanya lihat kemasan produk dan kejelasan cara produksinya saja. Dalam jurnal misalnya doaj, proquest dsj.
  3. Pengindex tinggi, seperti hanya supermarket. Kalo kita mau nitip produk di toko ini sangat ketat selain isi form, produk kita juga harus jelas bahan yg digunakannya apa, halal haramnya, kadaluarsa bahannya dll. Harus juga memperhatikan siapa yang membuatnya, siapa yang bertugas sebagai qualoty control produknya dll. Intinya semua harus berkualitas. Dalam jurnal contohnya scopus dan thopson. 

Semoga dengan penjelasan yang disampaikan oleh bapak Lukman tadi membuka wawasan kita dalam memahami indeks dalam jurnal.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Indeks dalam jurnal disadur dari keterangan Pak Lukman di Workshop RJI JABAR"

Post a Comment

Harap Berkomentar Sesuai dengan Topik Pembahasan

Komentar anda sengaja dimoderasi untuk menghindari komentar yang mengandung sara dan spam